Ber-Kereta Api ke Jogja

“Naik Kereta Api Tut-tut-tut”

Iklan

Kali ini saya bercerita tentang perjalanan mudik belum lama ini. Moda transportasi yang saya gunakan setidaknya empat macam, yaitu Pesawat Udara, Bus, Go Car dan Kereta Api. Tiket Pesawat dan Kereta Api saya pesan jauh hari sebelum berangkat, sedangkan Bus langsung di terminal, sedangkan Go Car tentu saja on the spot.

Kereta Api saya gunakan untuk menuju Kota Gudeg, sebagai persinggahan kedua saat mudik. Saya cukup beruntung mendapatkan tiket kereta kelas eksekutif dengan harga sangat murah. Di situs resmi KAI (https://tiket.kereta-api.co.id/) tiket Malioboro Express (Moleks) kelas eksekutif adalah berkisar 250an ribu, kelas bisnis sekitar 180 ribu dan ekonomi 110 ribu. Sementara tiket saya adalah kurang dari 70ribu untuk kelas eksekutif dalam rangkaian kereta yang sama. Tiket kereta saya beli melalui salah satu situs penyedia tiket dan hotel yang pada awal Agustus 2017 kemarin sedang promo. Cukup ekonomis.

IMG_20170902_222153

Kereta Moleks yang saya naiki dari stasiun ke tiga titik keberangkatan awal. Saya sampai stasiun sekitar 15 menit sebelum jadwal keberangkatan. Bagusnya kedatangan dan keberangkatan sesuai dengan jadwal, karena tidak lama sampai stasiun, kereta Moleks tiba, tidak sampai lima menit sudah berjalan kembali.

Gerbong eksekutif yang saya naiki adalah gerbong ketiga, eksekutif kelas-X (extra) yang memang sudah cukup usia, namun masih sangat nyaman. Ac dan lampu semua menyala. Kursinya empuk dan dapat di putar 180″ sesuai selera. Di dekat jendela tersedia colokan listrik untuk mengisi handphone maupun laptop.  Meskipun ada petugas keamanan yang selalu berpatroli antar gerbong, kita tetap harus waspada dengan barang bawaan, terutama barang elektroni. Terlebih perjalanan malam yang saya tempuh kurang lebih lima jam, sehingga lebih baik di pakai untuk tidur.

Di kantong depan saya tersedia selimut yang siap pakai, dan juga istimewanya dan baru tahu (saking lamanya tidak naik kereta) ada buku petunjuk keselamatan, semacam di pesawat :).

Buku ini berisi instruksi jika dalam keadaan darurat tentu saja. Sayangnya saya tidak menemukan majalah kereta api, yang biasanya tersedia juga di kantong depan kursi. Setelah membuka selimut dan memastikan semua aman, saya memutuskan memejamkan mata untuk istirahat. Sepanjang jalan kereta berjalan mulus dan tidak bising dalam gerbong, sehingga tidur lelap saya terpenuhi. Sesuai jadwal kereta sampai jogja sebagai titik akhir dan saya sangat puas dengan pelayanan https://kai.id/.Demikian Matur Nuwun #ojokurangpiknik #ojokurangngopi @kai121

Menyeberang dengan SpeedBoat

Minggu kemarin saya melakukan perjalanan pertama kalinya dengan speedboat (selanjutnya di tulis speed saja – seperti halnya masyarakat disini mengejanya). perjalanan dari Tarakan menuju ke ibukota provinsi Kalimantan Utara (Tanjung Selor) dapat ditempuh umumnya dengan dua moda, yakni darat dan laut (plus sungai). Penerbangan menuju Tarakan menggunakan pesawat jenis kecil saja untuk saat ini, yang sebenarnya harga tiketnya tidak terpaut jauh dengan speed yang 110 ribu sekali jalan.
sebelum berangkat dari pelabuhan speed Tarakan, kami membeli tiket di loket setelah pintu masuk pelabuhan. Kendaraan pengantar dapat masuk hingga mendekati sandaran speed. ada banyak rute pilihan dari pelabuhan speed Tarakan, antara lain menuju Tanjung Selor, Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung. semua rute tersebut merupakan rute terjadwal, artinya setiap jam nya ada speed yang menuju tujuan tersebut dan sebaliknya. Masyarakat umumnya memilih moda ini karena lebih jelas jadwalnya, dibandingkan dengan pesawat yang untuk saat ini hanya di jam atau bahkan hanya hari tetentu. speed yang saya naiki cukup besar. dengan daya tampung sekitar 40 orang. saya sengaja duduk dibangku paling depan, sebelah pengemudi (tepatnya nahkoda atau apa sebutannya 🙂 ).

Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. speed yang saya tumpangi menggunakan empat mesin, sesuai dengan ukuran dan kapasitas penumpang. Perjalanan dimulai dengan menyusuri laut yang memisahkan Tarakan dengan Pulau Kalimantan, sekitar setengah jam jam di laut memasuki muara sungai dengan beberapa rambu lalu lintas laut yang terpasang. Sesekali bersimpangan dengan speed lain membuat sensasi bergoyang akibat gelombang yang ditimbulkan. selanjunya speed menempuh sungai yang cukup lebar dengan rimbunan pohon. saya tidak tau persis nama sungai yang dilintasi speed menuju Tanjung Selor, hanya sungai (Sei) Kayan yang saya tau namanya berdasarkan peta :). menempuh perjalanan di atas sungai sangatlah menyenangkan. melihat kiri kanan masihlah hutan yang cukup rimbun. juga ditemui beberapa rumah yang menyendiri dan mengandalkan perahu kecil sebagai sarana penghubung. sesekali bersimpangan dengan perahu kecil maupun besar speed yang aku tumpangi sedikit mengurangi kecepatannya agar tidak menimbulkan gelombang besar.

setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, speed sampai tujuan di Tanjung Selor. Pelabuhannya cukup ramai dan menghubungkan dengan beberapa tujuan lain tanpa harus melewati Tarakan. demikianlah perjalanan pertama saya menggunakan speed. sangat menyenangkan dan perlu mencoba tujuan lain yang lebih jauh. #ojokurangpiknik

Garuda Indonesia Pertama

Sebuah perjalanan dari kantor lebih tepatnya, bukan bayar sendiri. Awal bulan september bersama teman kantor menuju Balikpapan untuk kegiatan beberapa hari. Proses pesan tiket secara online, cetak boarding pass dan masuk bandara seperti biasanya tidak ada masalah. Kami (lebih tepatnya saya) sengaja memilih Garuda Indonesia untuk penerbangan kali ini karena memang belum pernah :). Sesuai jadwal pesawat kami GA 663 jam 10.25 sudah take off. Jam sembilan kurang kami sudah check in, karena ada beberapa koper yang mesti masuk bagasi.

Ruang tunggu bandara Juwata cukup ramai pada jam-jam pagi, tidak hanya ke arah Balikpapan sebagai bandara hub , namun juga ke Malinau dan Nunukan serta beberapa penerbangan perintis lainnya. Penerbangan kami sesuai info di webnya menggunakan pesawat Bombardier CRJ 1000 NG, sebuah pesawat jet kecil yang nampak efisien dan ekonomis untuk menghubungkan antar daerah relatif kecil namun memiliki potensi ekonomi dan pariwisata yang bagus ( termasuk Tarakan mestinya 🙂 ).

Saya membayangkan hari itu akan sangat menikmati perjalanan sebuah maskapai yang terkenal karena ketepatan waktunya paling tinggi di Indonesia. Namun ternyata hari itu, karena alasan teknis kami harus menunggu sekian lama hingga baru jam 14 an pesawat take off . Memang manusia bisa berencana, namun faktor teknis dan keselamatan lebih penting. Saat menunggu dan diinformasikan bahwa penerbangan delay tanpa ada kepastian waktu, saya coba komunikasi melalui akun twitter garuda @IndonesiaGaruda dpt kabar krna masalah teknis, dan menunggu spare part dari Jakarta. Oke lah gpp, untungnya perjalanan kami hari itu santai, tidak terikat agenda tertentu. Beberapa penumpang Garuda akhirnya ganti pesawat maskapai lain karena di kejar urusan :). Kami menunggu sambil menikmati suasana bandara, sebagai kompensasi kami diberi sebotol kecil air mineral dan makanan berat. Cukuplah untuk pengganti. Setelah sekian lama, akhirnya pesawat yang kami tunggu mendarat sekitar jam 13an. Tak lama setelah menurunkan penumpang, kami naik ke pesawat. Cukup bagus pelayanan yang diberikan, disediakan payung saat jalan dari terminal ke pesawat di siang yang terik. Di tangga masuk pesawat di sambut petugas yang meminta maaf karna keterlambatan pesawat, juga diberikan koran hari itu sebagai bacaan.

Dari luar tampak badan pesawat yang kecil memanjang dengan mesin di ujung belakang. Menarik tampaknya :). Masuk ke kabin disambut mbak-mbak pramugari dan disilahkan menuju kursi. Kebetulan saya memilih kursi tengah agak kebelakang, ternyata meski konfigurasinya dua-dua di seatnya tertulis bukan AB CD, namun tetap AB EF seperti di pesawat dengan kursi tiga-tiga. Dengan kursi yang nyaman dan lumayan lapang, ditambah majalah favorit saya, Colours (satu-satunya majalah di pesawat yang boleh dan diijinkan di bawa pulang oleh penumpang :), karena dengan penerbangan lainnya sepengalaman saya tidak booleh, baik di Citilink, Air Asia, Sriwijaya maupun Lion ). Dalam penerbangan sekitar satu jam tidak terasa lama, di perjalanan kami mendapatkan snack dan minuman yang cukup untuk menemani. Alhamdulillah mendarat dengan mulus di Sepinggan tepat satu jam perjalanan

Overall saya puas menikmati penerbangan pertama dengan Garudaini, dan memaklumi keterlambatan yang terjadi, terlebih karena alasan teknis yang mengutamakan keselamatan penumpang. Servis dan kompensasinya bagus lahh. Pasca itu saya mendaftar GarudaMiles dan dapat menukarkan tiket perjalanan dengan mudah.

 

Menginap di Soetta

Semalam setelah menunggu Lion Air yang delay dari jam 20.00 ke 23.oo akhirnya mendarat di Soekarno Hatta International Aiport sekitar menjelang pukul 24.00. Sedikit flashback, saat menunggu delay di Adisucipto selama tiga jam, ternyata kompensasi yang diterima masing-masing jurusan berbeda, meskipun maskapainya sama. Sebagai perbandingan, maskapai BUMN memberikan nasi box produksi rumah katering mereka sendiri yang cukup wah. Sementara yang saya dapatkan adalah air mineral dan nasi menu ayam yang cukup terkenal dikalangan mahasiswa dan masyarakat jogja, sebutlah Jogchiks :). Padahal penumpang Lion Air jurusan kota lain ‘hanya’mendapatkan roti yang kira-kira harganya dua ribuan plus air mineral. Enatahlah apa sebabnya kok beda. 🙂

Setelah mendarat, para penumpang diangkut dengan bus bandara milik Lion Air, lumayan lama perjalanan (saya tidak tahu mendarat di sisi mana), akhirnya kami turun di terminal 3 yang masih relatif baru, bersebelahan dengan terminal 3 Ultimate yang belum jadi diresmikan (isunya direktur angkasa pura yang membawahi Soetta akan gantikan Jonan). Sudah beberapakali saya naik maupun turun lewat terminal ini. Namun baru pertama kalinya akan nginap di Soetta, khususnya malam ini. Setelah memasuki pintu kedatangan menuju pintu keluar, saya mampir ke toilet dulu dan merasakan toilet yang sebenarnya tidak kalah dengan Changi soal kebersihan dan sarananya (yang kalah hanya kebiasaan penggunanya, termasuk saya :).

Lanjut keluar ternyata saya melewati mushola, sekalian sholat isya saya mampir ke mushola tersebut. luasnya sekitar 6×8 meter dengan lantai marmer yang bersih dan air jernih. Ternyata di mushola tersebut telah ada empat orang yang tidur dengan alat masing-masing, terpisah antara pria dan wanita. Seusai sholat, saya memutuskan untuk istirahat di mushola tersebut sambil menunggu checkin jam 4 pagi, lumayan masih ada waktu sekitar tiga jam an untuk memejamkan mata. Kebetulan ada satu orang yang masih asyik dengan lepinya, akhirnya kami ngobrol. Dia adalah Arif, mahasiswa Akakom jurusan TI yang berasal dari Kabupaten Melawi, Kalbar, yang juga menunggu untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja jam 5.30 nanti. Setelah ngobrol singkat, saya merebahkan badan di atas karpet yang tadinya masih digulung, saya sengaja gelar untuk alas tidur karena ac masih menyala dan lantainya sangat dingin. Dengan bantal tas kecil digulung sarung, pakai kaos kaki dan penutup kepala, lumayan enak untuk memejamkan mata. Namun tetap harus waspada karena di tempat umum, kaki saya sengaja masukkan pada tali tas punggung. Walau memang tidak sepenuhnya tenang, karena ada saja orang yang datang menyusul tidur, bahkan ada yang mendengkur cukup keras, tempat tersebut cukup rekomended sebagai tempat transit untuk menunggu penerbangan pagi.

Awalnya saya memang merencanakan tidur di terminal dua F, sebagaimana yang saya dapatkan infonya di internet. Namun ternyata di mushola terminal 3 tampaknya lebih nyaman, meski belum merasakan menginap di terminal lainnya. Yang perlu diantisipasi adalah jika penerbangan selanjutnya tidak diterminal tiga, ternyata bis shuttel bandara di saat dinihari tidak per setengah jam seperti di siang hari. Pas saya keluar dari terminal tiga untuk menuju terminal satu, ketinggalan sepersekian detik dari bis shuttel, menunggu shuttel selanjutnya di saat dinihari ternyata penuh ketidakpastian. Dari jam tiga hingga jam 4 kurang sedikit, bis shuttel belum jua muncul lagi. Agak panik karna takut ketinggalan pesawat diterminal satu A, saya ngobrol dengan satpam dan disarankan naik ojek saja. Okelah, itu satu-satunya pilihan saat mendesak tersebut. Sebelum naik saya tanya tarif tukang ojek, dia minta empat puluh ribu, saya tawar dua puluh belum boleh dan akhirnya sepakat tiga puluh ribu.

Meluncur ke terminal satu dengan ojek merupakan pilihan terbaik saat dinihari tanpa shuttel, karena tidak sampai sepuluh menit saya masuk terminal satu A di jam 4.15, dan sudah diminta boarding. Untungya sudah web checkin, saya langsung masuk ruang tunggu tanpa harus lewat konter checkin (sebuah proses yang memakan waktu) dan tanpa boarding pass, seperti halnya di jogja. Pukul 4.25 masuk pesawat dan melanjutkan perjalanan berikutnya tepat jam 5 pagi tanpa harus delay meski menggunakan maskapai yang sama.

Inilah pengalaman pertama saya menginap di Soetta, yang pada intinya cukup memuaskan dan mendebarkan. Pengalaman berharga bagi saya khususnya.