Sosialisasi di SMK

sebagai bagian upaya edukasi kepada masyarakat, khususnya pelajar yang akan memasuki dunia kerja, pagi tadi bersama teman-teman dari @ombudsmanjogja melakukan sosialisasi dan edukasi di salah satu SMK di Sleman. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali mereka yang akan segera meninggalkan bangku sekolah menuju jenjang selanjutnya.

umumnya pelajar smk setelah lulus adalah langsung masuk dunia kerja, bukan kuliah atau bahkan menikah, :). mereka sudah dibekali dengan kompetensi sesuai bidang jurusan yang ditempuhnya. sesuai kompetensi dan sertifikat serta ijazah tentunya mereka sudah siap masuk dunia kerja. namun demikian di sisi lain mereka perlu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai lika-liku dunia kerja. mulai dari memilih perusahaan yang bonafid sampai dengan bekal mencermati surat kontrak kerja. hal tersebut sangat penting guna menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. jangan sampai pekerja menjadi objek tanpa mendapatkan gaji/upah yang sesuai dengan ketentuan.

hal utama adalah membekali diri dengan kompetensi dunia kerja, pengetahuan perjanjian kerja, dan bagaimana menjadi pekerja yang berkualitas namun tetap mampu melindungi dirinya dari ekplotasi pemberi kerja.

 

Iklan

MUSEUM DI HATIKU

Lahir pada 26 April 1982 di Trenggalek, sebuah kota kecil di sisi selatan Provinsi Jawa Timur, MOHAMMAD BAGUS SAMITA kemudian melanjutkan pendidikan di kota pelajar, kota budaya Yogyakarta pada tahun 2001. Pasca lulus dari studi Ilmu Sejarah UNY pada 2006 dan mengambil studi keguruan di kampus yang sama, saya ternyata tidak kemudian kembali ke kampung halaman. Daerah Istimewa Yogyakarta sangat sayang untuk ditinggalkan. Berbagai aktivitas baik formal dan non formal saya jalani di kota ini. Mengajar guru di Universitas Terbuka salah satunya. Hingga kemudian semenjak 2010 saya menjadi bagian Lembaga Ombudsman DIY, sebuah lembaga yang dibentuk Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga pemerintah maupun swasta yang melayani publik.

Berbicara tentang museum, saya mengibaratkannya sebagai rumah kedua. Tidak bermaksud berlebihan, namun senyatanya seperti itu. Pada awal-awal kedatangan saya di kota pelajar ini, museum yang saya ketahui hanyalah Museum Keraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg dan Sonobudoyo. Secara kebetulan sejak SD saya memang menyukai ilmu sosial, terutama sejarah dan geografi, sehingga secara tidak sadar selalu mencari informasi lebih terhadap objek-objek tersebut di banding yang lain dan salah satunya adalah museum. Hal itu terbawa hingga sekarang meskipun tidak lagi beraktivitas dalam hal mendidik dan mengajar.

Sudah cukup banyak museum yang saya datangi, karna di setiap yang saya kunjungi, selalu berupaya untuk datang ke museum yang ada di daerah tersebut, museum apa saja pokoknya ;). Dengan masuk museum, setidaknya saya tidak perlu datang ke banyak objek lain karena di situlah terkumpul beragam koleksi yang dapat menambah wawasan tentang daerah tersebut sejak dulu hingga sekarang, bukan hanya tentang sejarah tentunya. Mengunjungi museum dan mempelajari koleksinya adalah salah satu kesukaan saya selain menulis dan mengumpulkan perangko. Kedua hal tersebut saling melengkapi satu sama lain.

Mengikuti ajang Duta Museum 2014, merupakan sebuah kebetulan bagi saya, karena saat itu di ajak teman (Mas Asnan Arifin) yang menjadi pengelola Museum Pendidikan Indonesia di UNY. Saat itu saya berfikir ini bagian untuk menyalurkan hobi saya untuk berkunjung ke museum, meskipun juga sempat menjadi usulan judul tesis saya saat studi lanjut. Sebagai syarat peserta saya buat tulisan yang berjudul “Museum Tak Hanya Wahana Kreasi” https://sasjend.wordpress.com/2014/09/03/museum-tak-hanya-wahana-rekreasi/ . Bagi saya museum lebih dari sekedar tempat menyimpan barang koleksi atau tempat wisata saja. Museum merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan pemahaman dan penanaman nilai-­nilai budaya luhur kepada masyarakat segala usia khususnya pelajar. Melalui museum masyarakat dapat memahami nilai­-nilai luhur sejarah bangsa di masa lalu yang dapat diterapkan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki puluhan museum dengan ragam isi dan koleksinya, tidak sekedar untuk belajar sejarah namun juga belajar banyak hal lain. Museum tidak boleh dipandang hanya sebagai tempat wisata di waktu tertentu saja, namun juga sebagai laboratorium pengetahuan guna mempelajari perkembangan suatu objek dalam kurun waktu tertentu hingga sekarang, bahkan dapat merefleksikan masa depan. Untuk itu, mari kita jaga bersama, kita tingkatkan mutunya, dan jangan sampai di klaim bangsa lain. SALAM MUSEUM DI HATIKU !!!

MUSEUM TAK HANYA WAHANA REKREASI

Museum merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan pemahaman dan penanaman nilai­nilai budaya luhur kepada masyarakat khususnya pelajar. Melalui museum masyarakat dapat memahami nilai­nilai luhur sejarah bangsa di masa lalu yang dapat diterapkan di masa sekarang. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki puluhan museum dengan ragam isi dan koleksinya, tidak sekedar untuk belajar sejarah namun juga belajar banyak hal lain. Museum tidak boleh dipandang hanya sebagai tempat wisata di waktu tertentu saja, namun juga sebagai laboratorium pengetahuan guna mempelajari perkembangan suatu objek dalam kurun waktu tertentu hingga sekarang, bahkan dapat merefleksikan masa depan.

Kondisi permuseuman berdasarkan tingkat kunjungan masih cukup memprihatinkan. Masih sangat sedikit jumlah pengunjung museum dibandingkan kunjungan ke objek wisata lain, bahkan ke pusat perbelanjaan. Museum sebagai sebagai salah satu sarana pembelajaran di luar kelas memiliki manfaat yang sangat besar, antara lain sebagai tempat menyimpan warisan budaya leluhur, dokumentasi untuk sarana penelitian, ilmu, mengenalkan budaya dari luar, visualisasi budaya dan warisan masa lalu, cermin untuk masa datang, dan menambah keimanan pada Tuhan yang Maha Esa. Namun demikian berbagai manfaat museum tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini dapat di lihat dari kurangnya pemanfaatan museum sebagai media pembelajaran yang mampu memberikan aspek rekreasi bagi pelajar, memberikan visualisasi, interpretasi dan generalisasi tentang suatu peristiwa. Dari analisa data kunjungan diperoleh fakta bahwa masyarakat khususnya pelajar masih sangat kurang memanfaatkan museum sebagai media belajar. Bahkan banyak pelajar yang sama sekali belum pernah secara sengaja mengunjungi museum untuk mempelajari koleksi yang terdapat didalamnya. Di samping itu guru juga belum mendorong siswa untuk melakukan kunjungan ke museum baik secara pribadi maupun perseorangan sebagai bagian tugas pembelajaran. Berbagai koleksi dalam museum ternyata sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) pembelajaran, sehingga sangat perlu di dorong kerjasama yang profesional antara berbagai museum (asosiasi museum) dengan pihak sekolah atau dinas pendidikan; disediakan fasilitas penunjang kegiatan pendidikan seperti leaflet, brosur, buku panduan, film, mikro film, slide dan LKS; serta disediakan gedung pemutaran film yang dapat dimanfaatkan pengunjung setiap saat. Di samping itu, Kepala Sekolah memberi ijin kepada guru untuk memanfaatkan koleksi museum sebagai media dan sumber pembelajaran; Kepala Sekolah mewajibkan guru untuk membuat jadwal terprogram guna memanfaatkan koleksi museum sesuai materi di kelas; dan Sekolah/Dinas Pendidikan serta Dinas Kebudayaan mengadakan kerjasama simbiosis mutualisme dengan museum.

Macam

aliran pendidikan

Kumpulan-kumpulan Artikel (Thematic clusters Articles)

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dr dulu sampai sekarang ini pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk membawa mereka kepada kehidupan yang lebih baik, dan masalah sukses tidaknya pendidikan tidak lepas dari factor pembawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan merupakan hal yang tidak mudah untuk di jelaskan sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban, tentang perkembangan manusia itu sebenarnya bergantung kepada pembawaan ataukah lingkungan. Dalam hal ini penulis akan memaparkan beberapa pendapat dari aliran-aliran klasik, di antaranya aliran nativisme, naturalisme, empirisme dan konvergensi, serta pengaruhnya terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di Indonesia, serta pandangan islam terhadap pendidikan.

Lihat pos aslinya 3.307 kata lagi