MUSEUM DI HATIKU

Lahir pada 26 April 1982 di Trenggalek, sebuah kota kecil di sisi selatan Provinsi Jawa Timur, MOHAMMAD BAGUS SAMITA kemudian melanjutkan pendidikan di kota pelajar, kota budaya Yogyakarta pada tahun 2001. Pasca lulus dari studi Ilmu Sejarah UNY pada 2006 dan mengambil studi keguruan di kampus yang sama, saya ternyata tidak kemudian kembali ke kampung halaman. Daerah Istimewa Yogyakarta sangat sayang untuk ditinggalkan. Berbagai aktivitas baik formal dan non formal saya jalani di kota ini. Mengajar guru di Universitas Terbuka salah satunya. Hingga kemudian semenjak 2010 saya menjadi bagian Lembaga Ombudsman DIY, sebuah lembaga yang dibentuk Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga pemerintah maupun swasta yang melayani publik.

Berbicara tentang museum, saya mengibaratkannya sebagai rumah kedua. Tidak bermaksud berlebihan, namun senyatanya seperti itu. Pada awal-awal kedatangan saya di kota pelajar ini, museum yang saya ketahui hanyalah Museum Keraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg dan Sonobudoyo. Secara kebetulan sejak SD saya memang menyukai ilmu sosial, terutama sejarah dan geografi, sehingga secara tidak sadar selalu mencari informasi lebih terhadap objek-objek tersebut di banding yang lain dan salah satunya adalah museum. Hal itu terbawa hingga sekarang meskipun tidak lagi beraktivitas dalam hal mendidik dan mengajar.

Sudah cukup banyak museum yang saya datangi, karna di setiap yang saya kunjungi, selalu berupaya untuk datang ke museum yang ada di daerah tersebut, museum apa saja pokoknya ;). Dengan masuk museum, setidaknya saya tidak perlu datang ke banyak objek lain karena di situlah terkumpul beragam koleksi yang dapat menambah wawasan tentang daerah tersebut sejak dulu hingga sekarang, bukan hanya tentang sejarah tentunya. Mengunjungi museum dan mempelajari koleksinya adalah salah satu kesukaan saya selain menulis dan mengumpulkan perangko. Kedua hal tersebut saling melengkapi satu sama lain.

Mengikuti ajang Duta Museum 2014, merupakan sebuah kebetulan bagi saya, karena saat itu di ajak teman (Mas Asnan Arifin) yang menjadi pengelola Museum Pendidikan Indonesia di UNY. Saat itu saya berfikir ini bagian untuk menyalurkan hobi saya untuk berkunjung ke museum, meskipun juga sempat menjadi usulan judul tesis saya saat studi lanjut. Sebagai syarat peserta saya buat tulisan yang berjudul “Museum Tak Hanya Wahana Kreasi” https://sasjend.wordpress.com/2014/09/03/museum-tak-hanya-wahana-rekreasi/ . Bagi saya museum lebih dari sekedar tempat menyimpan barang koleksi atau tempat wisata saja. Museum merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan pemahaman dan penanaman nilai-­nilai budaya luhur kepada masyarakat segala usia khususnya pelajar. Melalui museum masyarakat dapat memahami nilai­-nilai luhur sejarah bangsa di masa lalu yang dapat diterapkan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki puluhan museum dengan ragam isi dan koleksinya, tidak sekedar untuk belajar sejarah namun juga belajar banyak hal lain. Museum tidak boleh dipandang hanya sebagai tempat wisata di waktu tertentu saja, namun juga sebagai laboratorium pengetahuan guna mempelajari perkembangan suatu objek dalam kurun waktu tertentu hingga sekarang, bahkan dapat merefleksikan masa depan. Untuk itu, mari kita jaga bersama, kita tingkatkan mutunya, dan jangan sampai di klaim bangsa lain. SALAM MUSEUM DI HATIKU !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s