MUSEUM TAK HANYA WAHANA REKREASI

Museum merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan pemahaman dan penanaman nilai­nilai budaya luhur kepada masyarakat khususnya pelajar. Melalui museum masyarakat dapat memahami nilai­nilai luhur sejarah bangsa di masa lalu yang dapat diterapkan di masa sekarang. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki puluhan museum dengan ragam isi dan koleksinya, tidak sekedar untuk belajar sejarah namun juga belajar banyak hal lain. Museum tidak boleh dipandang hanya sebagai tempat wisata di waktu tertentu saja, namun juga sebagai laboratorium pengetahuan guna mempelajari perkembangan suatu objek dalam kurun waktu tertentu hingga sekarang, bahkan dapat merefleksikan masa depan.

Kondisi permuseuman berdasarkan tingkat kunjungan masih cukup memprihatinkan. Masih sangat sedikit jumlah pengunjung museum dibandingkan kunjungan ke objek wisata lain, bahkan ke pusat perbelanjaan. Museum sebagai sebagai salah satu sarana pembelajaran di luar kelas memiliki manfaat yang sangat besar, antara lain sebagai tempat menyimpan warisan budaya leluhur, dokumentasi untuk sarana penelitian, ilmu, mengenalkan budaya dari luar, visualisasi budaya dan warisan masa lalu, cermin untuk masa datang, dan menambah keimanan pada Tuhan yang Maha Esa. Namun demikian berbagai manfaat museum tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini dapat di lihat dari kurangnya pemanfaatan museum sebagai media pembelajaran yang mampu memberikan aspek rekreasi bagi pelajar, memberikan visualisasi, interpretasi dan generalisasi tentang suatu peristiwa. Dari analisa data kunjungan diperoleh fakta bahwa masyarakat khususnya pelajar masih sangat kurang memanfaatkan museum sebagai media belajar. Bahkan banyak pelajar yang sama sekali belum pernah secara sengaja mengunjungi museum untuk mempelajari koleksi yang terdapat didalamnya. Di samping itu guru juga belum mendorong siswa untuk melakukan kunjungan ke museum baik secara pribadi maupun perseorangan sebagai bagian tugas pembelajaran. Berbagai koleksi dalam museum ternyata sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) pembelajaran, sehingga sangat perlu di dorong kerjasama yang profesional antara berbagai museum (asosiasi museum) dengan pihak sekolah atau dinas pendidikan; disediakan fasilitas penunjang kegiatan pendidikan seperti leaflet, brosur, buku panduan, film, mikro film, slide dan LKS; serta disediakan gedung pemutaran film yang dapat dimanfaatkan pengunjung setiap saat. Di samping itu, Kepala Sekolah memberi ijin kepada guru untuk memanfaatkan koleksi museum sebagai media dan sumber pembelajaran; Kepala Sekolah mewajibkan guru untuk membuat jadwal terprogram guna memanfaatkan koleksi museum sesuai materi di kelas; dan Sekolah/Dinas Pendidikan serta Dinas Kebudayaan mengadakan kerjasama simbiosis mutualisme dengan museum.

Iklan

One thought on “MUSEUM TAK HANYA WAHANA REKREASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s