Akhirnya setelah sekian tahun tidak naik kereta, wiken kemarin bisa mudik bersama KA Malabar dari stasiun Tugu, Yogya. Saya memilih menggunakan kereta Malabar karena secara waktu lebih cepat sampai ke rumah meski harus bayar agak mahal. Kereta ini memiliki rute Bandung tujuan akhir Malang, melewati Purwokerto, Yogya, Solo, Madiun dan Kediri.
Istimewanya kereta ini dalam satu rangkaian gerbong terdiri atas tiga kelas sekaligus, yaitu; eksekutif, bisnis dan ekonomi plus (artinya kurang lebih gerbong kelas ekonomi, namun kecepatannya kelas eksekutif 🙂 ). Info yang saya dapat sebelumnya harga tiket kereta ini adalah 220 ribu (eks), 160 rb (bis), dan 110 rb (ek +), dan ada tambahan tiket bisnis promo adalah 100 rb. Namun saat pesan tiket beberapa hari sebelumnya, yang kelas bisnis promo habis, jadi saya ambil tiket ekonomi plus saja, toh waktu sampainya sama.
Kereta ini berangkat dari stasiun Tugu, Yogyakarta pukul 23.50 dari jalur 2 (meski jika mengacu pada tiketnya adalah 23.38, selisih 12 menit tidak apa-apa karena inilah Indonesia :-). Di jalur 4 ada juga KA Malabar, namun dari arah sebaliknya yaitu dari Malang dengan tujuan akhir Bandung. Duduk di gerbong ekonomi dengan nomor 4B, di sebelahku ada ibu-ibu dari Bandung yang mengantarkan anaknya kuliah ke Malang. Dari cerita yang kuterima mereka beli tiketnya di Indomaret dengan selisih harga 7500 dari tiket yang tertera di website PT. KAI (dapat kacang dan air minum) yang saya rasa cukup sebanding karena tidak harus antre lama di loket stasiun seperti yang saya alami beberapa hari sebelumnya.
Berangkat menjelang tengah malam, kereta berlahan meninggalkan stasiun tugu, melewati stasiun lempuyangan dengan pelan tanpa berhenti di sana, setelah itu berlahan kecepatan naik sampai sekitar 90 km/jam, cukup cepat untuk sebuah kereta diesel. Saya pantau dari GPS di Sony Ericsson Aspen kereta ini melaju dengan kecepatan rata-rata 90 – 100 km/jam, hanya berlahan jika mendekati stasiun.
Malabar terus melaju menembus kegelapan malam melintasi beberapa stasiun kecil tanpa berhenti. Sejak dari Yogya sampai tujuan (stasiun Tulungagung) saya mengingat kereta ini sekurangnya enam kali berhenti, yakni di Solo, Madiun, Nganjuk, Kertosono, Kediri dan akhirnya Tulungagung sebagai tujuan akhir saya.
Berhubung perjalanan malam dan ngantuk, maka sepanjang perjalanan saya hampir tidur terus, hanya terjaga pas kereta berlahan mendekati stasiun. Secara umum kereta ini nyaman untuk dinikmati pada malam hari, terutama jika kita perlu segera sampai tujuan, karena hanya dalam waktu kurang lebih empat jam bisa menempuh jarak hampir 200 kilometer dari Yogya sampai Tulungagung. Jika menggunakan bus umum di malam hari waktu tempuhnya sekitar enam sampai tujuh jam, sedang di siang hari bisa mencapai sepuluh jam untuk mencapai tujuan yang sama. Memang ada perbedaan biaya yang bisa mencapai dua kali lipat atau lebih, namun cukup efisien jika dibandingkan dengan waktu tempuh yang lebih cepat. Pilihan ada di tangan kita, selamat menimati perjalanan dengan moda transport yang aman, nyaman dan cepat sampai tujuan.
Tiba di stasiun Tulungagung jam empat pagi, pas adzan subuh bergema. Akhirnya saya sekalian sholat sambil menunggu di jemput adik dan bapak.

Iklan